
Oleh: Anton Hendranata, Anton Gunawan, dan Helmi Arman
20 April 2011
Walaupun akhir-akhir ini harga minyak mentah dunia dan pangan turun. Risiko tekanan inflasi ke depannya masih relatif tinggi. Inflasi di negara maju dan negara berkembang terus mengalami kenaikan.
Perkembangan data ekonomi AS yang belum solid serta meningkatnya risiko inflasi, ditambah dengan menurunnya outlook utang AS menjadi negatif dari stabil menyebabkan investor bersifat risk averse. Dolar AS menguat ke sebagian besar mata uang global, kecuali Yen Jepang.
Rupiah sedikit melemah dan masih bergerak dan diperkirakan masih akan bergerak di kisaran Rp 8,650 – 8,800/USD dalam beberapa minggu ke depan. Seiring dengan ini, permintaan obligasi jangka pendek di lelang SUN hari Selasa (19-Apr) terlihat menurun drastis, walaupun obligasi tenor panjang masih diminati karena imbal hasilnya yang cukup tinggi.
Perkembangan Ekonomi Global
Harga minyak mentah dunia jenis Brent untuk pengiriman Mei dan WTI mengalami penurunan selama seminggu terakhir (Gambar 1). Harga minyak mentah Brent turun sebesar 3,4% menjadi 122 USD/barel per 14 April 2011. Begitu juga dengan harga WTI menjadi 107 USD/barel atau turun sebesar 5,0% per 18 April 2011.
Turunnya harga minyak mentah dunia ini diiringi juga oleh penurunan dari beberapa komoditas pangan dunia (Gambar 2) seperti: beras, gandum, jagung, dan kedelai. Namun demikian, risiko tekanan inflasi yang dihadapi negara maju dan berkembang masih tinggi karena potensi kenaikan harga minyak mentah dunia dan pangan masih besar.
Pemulihan perekonomian AS masih relatif lambat. Konsumsi rumah tangga masih labil, terlihat dari tren penjualan eceran yang cenderung meningkat, kembali turun pada bulan Maret 2011 (Gambar 3). Pertumbuhan penjualan eceran tahunan turun menjadi 7,1% dari 9,1% pada bulan Februari 2011. Begitu juga pertumbuhan penjualan eceran bulanan (setelah memperhitungkan faktor musiman), turun cukup signifikan menjadi 0,4% pada bulan Maret dari 1,1% pada bulan sebelumnya.
Pada saat konsumsi AS masih labil, tekanan inflasi terus meningkat (Gambar 4) sejak awal tahun 2011 akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia dan kenaikan harga pangan. Inflasi tahunan pada bulan Maret sebesar 2,70% dari 2,10% pada bulan sebelumnya, sedangkan inflasi inti meningkat menjadi 1,19% pada bulan Maret dari 1,09% pada bulan sebelumnya. Harus dicermati bahwa tinginya tekanan inflasi ini kemungkinan bisa mengganggu daya beli masyarakat AS ke depannya.
Pertumbuhan sisi produksi terlihat agak stagnan (Gambar 5). Pertumbuhan indeks produksi tahunan AS meningkat tipis menjadi 5,9% pada bulan Maret dari 5,6% pada bulan sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan indeks produksi bulanan (setelah memperhitungkan faktor musiman) meningkat menjadi 0,8% pada bulan Maret dari 0,1% pada bulan sebelumnya.
Perkembangan data ekonomi AS yang belum solid serta meningkatnya risiko inflasi, ditambah dengan menurunnya outlook utang AS menjadi negatif dari stabil oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor’s, menyebabkan investor bersifat risk averse. Investor meninggalkan aset finansial berimbal hasil tinggi, berbalik ke mata uang negara asalnya (base currency) seperti Dolar AS. Dolar AS menguat terhadap mata uang utama dunia dan Asia masing-masing sebesar 0,6% dan 0,3% (Gambar 6). Kemudian di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun turun menjadi 3,40% per 18 April 2011 dari 3.59% per 11 April 2011 (Gambar 7). Sedangkan bursa saham bergerak negatif dalam seminggu terakhir; indeks Dow Jones turun menjadi 12.202 per 18 April 2011 dari 12.381 per 11 April 2011.
Di kawasan Uni Eropa, kenaikan suku bunga acuan oleh ECB menimbulkan kekuatiran terhambatnya pemulihan ekonomi kawasan Uni Eropa, terutama Yunani, Irlandia, dan Portugis yang pemulihannya sangat lambat, berlawanan dengan pemulihan perekonomian Jerman yang akselerasinya begitu cepat. Hal ini menyebabkan rentang CDS 5-tahun Yunani, Irlandia, dan Portugis meningkat tajam (Gambar 8).
Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau penguatan Euro tertahan. Euro mengalami pelemahan terhadap Dolar AS sebesar 1,3% menjadi 1,43 USD/Euro per 19 April 2011. Begitu juga dengan bursa saham Eropa, indeks harga saham anjlok menjadi 2.848 per 18 April dari 2.975 per 11 April 2011 (Gambar 9).
Rupiah dan Imbal Hasil Obligasi Tertekan
Suku bunga di negara-negara Asia asia relatif memang masih menarik seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif lebih cepat dari negara-negara maju. Namun turunnya outlook utang AS menjadi negatif memicu risk aversion dan sebagian besar mata uang global mengalami pelemahan terhadap Dolar AS beberapa hari ini, kecuali Yen Jepang yang malah mengalami apresiasi yang tajam sebesar 2,5% terhadap Dolar AS.
Rupiah pun sedikit melemah mendekati Rp8,700/USD seiring dengan adanya arus modal keluar yang bersifat taktis. Kami perkirakan Rupiah masih akan masih berada dalam rentang prediksi jangka pendek kami (Rp 8,650 – 8,800/USD) selama beberapa minggu ke depan.
Minggu lalu BI mengumumkan akan memperpanjang kewajiban memegang kepemilikan SBI dari 1 bulan menjadi 6 bulan, mulai tanggal 13 Mei 2011. Kebijakan tersebut diperkirakan akan berakibat pada meningkatnya permintaan terhadap obligasi jangka pendek pemerintah sebagai pengganti instrumen carry trade jangka pendek investor asing.
Namun gejolak eksternal dan berkurangnya risk appetite global belakangan ini mengakibatkan kurva imbal hasil bergerak ke atas (Gambar 10). Dan minat terhadap obligasi-obligasi RI tenor pendek dalam lelang hari Selasa kemarin (19-Apr) turun signifikan walaupun permintaan terhadap obligasi tenor panjang masih tinggi dari investor domestik.
Best Regards,
Anton Hendranata
Economist/Econometrician



