Get Adobe Flash player

Ikhtisar Perekonomian Mingguan

ECB Menaikkan Rate Karena Tekanan Inflasi

Oleh: Anton Hendranata, Anton Gunawan, dan Helmi Arman

13 April 2011

Inflasi dunia terus terancam oleh kenaikan harga minyak mentah dunia dan harga pangan. Konsumsi masyarakat AS menunjukkan tren positif. Penjualan domestik kendaraan bermotor mengalami tren kenaikan, walaupun masih jauh di bawah pra krisis ekonomi tahun 2008.

Sementara itu di Eropa, ECB telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% pada tanggal 7 April 2011 akibat tingginya tekanan inflasi walaupun prospek kondisi perekonomian di Portugal, Yunani, Irlandia, dan masih suram.

Seiring dengan masih meningkatnya harga-harga komoditas mentah, Dolar AS masih melemah terhadap Euro dan juga mata uang Asia—walaupun ECB telah mensinyalir bahwa prospek kenaikan bunga lebih lanjut masih relatif kecil. Menurut perkiraan kami rentang pergerakan Rupiah jangka pendek berada pada kisaran 8,650 – 8,800/USD.


Perkembangan Ekonomi Global

Terus memanasnya konflik berdarah di Libya, ditambah dengan meluasnya ketegangan politik di kawasan Timur Tengah lainnya, seperti di Yaman dan Suriah. Dan adanya kekuatiran Pemilu di Nigeria mengakibatkan harga minyak mentah dunia terus memecahkan rekor. Ke depannya, risiko kenaikan harga minyak mentah dunia masih relatif tinggi.

Harga minyak mentah dunia jenis Brent untuk pengiriman Mei sempat melonjak tajam dalam seminggu terakhir, dengan kenaikan sebesar 7,5%, walaupun belakangan ini menurun ke  level 121 USD/barel per 13 April 2011. Pergerakan harga minyak mentah dunia WTI juga mirip, tercatat pada level 106 USD/barel per 12 April 2011 (Gambar 1).

Naiknya harga minyak mentah dunia ini, juga terlihat pada beberapa komoditas pangan dunia, seperti gandum dan jagung (Gambar 2). Tingginya harga minyak mentah dan pangan dunia tersebut berpotensi menaikkan inflasi secara global.

Tidak banyak data ekonomi AS yang keluar sampai minggu II April ini. Tingkat pengangguran terus menunjukkan tren penurunan, namun masih relatif tinggi. Selama dua bulan terakhir, tingkat pengangguran berada di bawah 9% yaitu 8,8% pada bulan Maret 2011 dari 8,9% pada bulan sebelumnya (Gambar 3). Turunnya tingkat pengganguran ini diikuti oleh Initial Jobless Claim AS yang terus menunjukkan perbaikan, terakhir tercatat sebesar 382 ribu orang per 1 April 2011 (Gambar 4).

Meskipun tingkat pengangguran masih relatif tinggi, konsumsi masyarakat AS menunjukkan tren positif. Penjualan domestik kendaraan bermotor mengalami tren kenaikan walaupun masih jauh di bawah pra krisis ekonomi tahun 2008 (Gambar 5).

Tren membaiknya aktivitas perekonomian AS juga terlihat dari Indeks Purchasing Managers (PMI) yang cenderung meningkat, terutama kegiatan manufaktur (Gambar 6). PMI sektor manufaktur dan jasa selalu berada dalam zona ekspansi. Bahkan PMI sektor manufaktur pada bulan Maret 2011 mencatat rekor tertinggi pada level 61,2 sejak tahun 2000.

Di kawasan Uni Eropa, akhirnya Bank Sentral Eropa (ECB) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% pada tanggal 7 April 2011. Era suku bunga 1,00% yang dipertahankan hampir 2 tahun sejak Mei 2010 mulai ditinggalkan oleh ECB (Gambar 7).

ECB lebih mengkuatirkan tekanan inflasi yang sudah berada di atas 2%, sekalipun tingkat pengangguran masih tinggi (Gambar 8) dan pemulihan ekonomi di sebagian negara Uni Eropa--terutama Yunani, Irlandia, dan Portugal--masih sangat lambat (Gambar 9). Dalam konferensi pers setelah kebijakan tersebut, ECB mensinyalir bahwa belum tentu suku bunga naik lagi dalam waktu dekat ini. Namun bila harga minyak terus meningkat, kondisi ini bisa saja berubah.

Naiknya suku bunga acuan tersebut di respon negatif oleh bursa saham Eropa. Indeks harga saham turun menjadi 2932 per 12 April dari 2985 per 8 April. Sementara itu, nilai tukar Euro terhadap Dolar AS relatif stabil dan bertahan dikisaran 1,45 USD/Euro (Gambar 10).

Rupiah Tertahan, Imbal Hasil Obligasi Tenor Pendek Turun

Dolar AS terus melemah terhadap mata uang Asia seiring dengan terus mengalirnya capital inflow ke negara-negara berkembang, mesikupun akhir-akhir sedikit melemah (Gambar 11). Kawasan Emerging Markets masih sangat menarik bagi para investor karena suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara maju.

Per akhir Maret, cadangan devisa yang sudah mencapai 105,7 miliar USD. Menurunnya inflasi di bulan panen diikuti oleh terus masuknya modal asing ke pasar obligasi domestik. Di mana kepemilikan asing di SBN terus meningkat menjadi Rp. 216 triliun (porsinya 32% dari total obligasi yang diperdagangkan) per tanggal 12 April dari Rp. 212 triliun per 1 April.

Tidak mengherankan kalau Rupiah begitu perkasa pada tahun 2010 dan berlanjut sampai bulan April 2011. Namun demikian, tetap harus diwaspadai, bahwa derasnya arus modal asing ke perekonomian domestik, bisa saja suatu saat berbalik arah memukul Rupiah.

Baru-baru ini BI mengumumkan akan memperpanjang kewajiban memegang kepemilikan SBI dari 1 bulan menjadi 6 bulan, mulai tanggal 13 Mei 2011. Kebijakan ini kelihatannya ditujukan untuk mengurangi masuknya arus modal asing jangka pendek ke instrumen moneter BI.

Sebagai akibatnya, kepemilikan asing di SBI, yang pada akhir bulan lalu mencapai Rp 77 triliun diperkirakan akan tergerus ke depannya sehingga penguatan Rupiah relatif akan tertahan (rentang prediksi kami: Rp 8,650 – 8,800/USD dalam sebulan ke depan). Namun bagi pasar obligasi, permintaan obligasi RI untuk tenor-tenor jangka pendek bisa meningkat, sehingga imbal hasilnya akan cenderung menurun dan kurva imbal hasil menjadi semakin curam (Gambar 12).

Best Regards,

Anton Hendranata

Economist/Econometrician