Petani Minta Stop Impor Bawang Merah
Petani semakin terpuruk karena bawang merah lokal tidak laku di pasaran, meski panen kali ini berhasil. Penyebab utamanya adalah bawang merah asal India yang bebas masuk tanpa aturan hingga beredar di sejumlah pasar tradisional.
Sekretaris Jenderal DPP Persaudaraan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI), Riyono mengatakan, pascapanen raya bawang merah impor terus masuk tanpa batas, sehingga bawang merah di setiap gudang menumpuk. Bawang merah impor yang masuk ke Pantura dengan jumlah ribuan ton setiap pekannya menyebabkan harga bawang merah lokal anjlok.
Kini bawang merah hanya dijual sekitar Rp 1.500 per kilogram, karena persediaan bawang merah melebihi kebutuhan pasar. Padahal modal tanam kini semakin mahal. "Sudah tiga musim tanam ini, kondisi petani bawang mengenaskan dan merugi terus. Mengapa pemerintah pusat diam saja," katanya, Rabu (25/1).
Menurutnya, sudah tujuh bulan ini pasar-pasar tradisional di wilayah pantai utara Jawa, khususnya Kabupaten Tegal, Brebes, dan sekitarnya, dibanjiri bawang impor, padahal daerah ini merupakan sentra pertanian bawang merah. Kerugian yang diderita petani bawang setiap hektare sekitar Rp 40-50 juta.
Selama ini pemerintah daerah tidak bisa berbuat apa-apa karena modus masuknya barang impor ini dilakukan oleh cukong-cukong kelas kakap yang memiliki gudang dan bekerja sama dengan tengkulak lokal.
Petani berharap pemerintah segera menghentikan kegiatan impor bawang merah karena sangat merugikan petani lokal. Jika bawang merah impor terus melimpah, tidak tertutup kemungkinan sejumlah petani di daerah Pantura akan gulung tikar akibat ulah importir nakal tersebut.
"Kebijakan impor bawang kontrapoduktif dengan semangat mencintai produk sendiri yang digemgorkan oleh pemerintah. Di saat petani bawang lokal panen, pemerintah pusat malah mengizinkan impor bawang," ujarnya.




