Tahun ini, Pemkab Kudus masih akan membidik peningkatan produksi Industri Kecil Menengah (IKM). Ini karena umumnya produksi IKM, khususnya golongan mikro dan kecil, masih tergolong rendah. Akibatnya sulit bersaing dengan industri skala besar.
''Peningkatan produksi akan berpengaruh dengan biaya produksi per item. Semakin banyak produksinya, biayanya akan semakin murah, tetapi jika sedikit produksinya, jatuhnya harga akan lebih mahal,'' ujar M Ghufron, Kepala Bidang Perindustrian, pada Dinas Perindustrian, Koperasi (Disperinkop) dan UMKM Kabupaten Kudus, Rabu (22/2).Selain untuk meningkatkan daya saing harga, peningkatan produksi juga dinilai akan memperluas industri kecil dan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Oleh karenanya, peningkatan produksi akan menjadi prioritas dalam pembinaan dan pendampingan bagi IKM.
Selain dengan pembinaan dan pendampingan, Disperinkop dan UMKM Kabupaten Kudus, rencananya akan memberikan bantuan kepada para pelaku IKM. Diantaranya adalah bantuan alat untuk pembuatan batu bata, alat pres genteng, peralatan bengkel las, peralatan industri kayu, alat pembuatan roti, dan packing industri makanan.
''Bantuan ini sebenarnya tidak hanya untuk peningkatan produksi saja, tetapi juga sampai kualitas dan hasil produksi yang layak dan baik untuk pemasaran,'' terangnya.
Ghufron mengaku, perkembangan IKM di Kabupaten Kudus saat ini tergolong sangat bagus. Banyak pelaku usaha baru yang memulai dengan industri mikro. Hal ini membuat jenis industri yang dikembangkan masyarakat semakin bervariasi. Seperti industri pembuatan kripik buah yang saat ini mulai dikembangkan di daerah Menawan, Kecamatan Gebog.
Dia berharap, dengan berbagai upaya yang dilakukan Pemkab, Ghufron berharap IKM bisa menindaklanjuti dengan kerja yang semakin bagus. Inovasi-inovasi produk juga harus terus dilakukan demi keberlangsungan usaha yang dirintis. ''Jangan sampai bantuan diberikan kemudia dibiarkan mangkrak,'' tandasnya.
















