Pemerintah tahun ini membatasi produksi rotan sebanyak 143.000 ton, turun 28,5% dibandingkan dengan tahun lalu mencapai 200.000 ton menyusul terbitnya larangan ekspor komoditas itu per 1 Januari 2012.
"Tahun ini, rotan yang boleh ditebang sebanyak 143.000 ton yang dibagi ke sejumlah daerah penghasil rotan termasuk Sulbar yang mendapat jatah sekitar 14.000 ton," jelasnya siang ini.
Dia menuturkan hal itu dalam kunjungan kerja ke Mamuju, Sulbar, bersama dengan menteri perdagangan dan menteri perindustrian.
Menhut mengatakan pembatasan produksi tersebut sebagai salah satu upaya menjaga kelesatarian komoditas rotan sehingga bisa tetap digunakan hingga tahun-tahun mendatang.
"Setiap rotan yang ditebang akan dikembalikan [peremajaan] selama 8 tahun," jelas menhut.Di sisi lain, penyerapan bahan baku rotan di dalam negeri masih belum maksimal pascapelarangan ekspor komoditas itu per Januari 2012.
Permasalahan yang terungkap adalah tidak lancarnya distribusi bahan baku rotan antarpulau, serta masih tidak terserapnya seluruh jenis, ukuran, dan kualitas rotan.
Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia mengatakan pada Januari-Februari pengrajin mebel rotan di Jawa tidak mendapat bahan baku dari daerah-daerah penghasil komoditas itu.
"Ada yang mendapat pesanan ekspor, tapi kurang 12 unit kursi karena tidak ada bahan baku rotan. Benar-benar tidak ada pasokan dari daerah. Harapan kami setelah ada larangan ekspor, pasokan rotan akan lancar, tapi ternyata tidak," jelasnya di tempat yang sama.Adapun Sulawesi adalah salah satu penghasil rotan terbesar di dunia di samping Kalimantan.
Permasalahan lain, yang dikemukakan oleh pengusaha rotan asal Sulbar, adalah bahwa harga rotan saat ini sangat rendah jika dijual ke industri di Jawa. Industri rotan di Jawa dinilai semena-mena dalam menetapkan harga.
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan pihaknya tengah melakukan penelusuran mengenai masalah yang ada pada jalur distribusi antarpulau sehingga industri kekurangan stok bahan baku rotan. "Kami juga melakukan penyelidikan, dimana [informasinya] ada juga pedagang yang tidak mau menjual bahan baku rotan," katanya.
Dia menuturkan nilai ekspor produk jadi berbahan baku rotan pada 1 Januari 2012 hingga 19 Februari 2012 sebanyak US$27 juta, sementara sepanjang tahun lalu mencapai US$110 juta.
Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Deddy Saleh optimistis nilai ekspor produk jadi rotan pada tahun ini bisa menembus US$250 juta. "Baru 1,5 bulan pelarangan ekspor bahan baku rotan, nilai ekspor produk jadi rotan sudah mencapai US$27 juta. Per bulan, nilai ekspor produk jadi rotan bisa mencapai US$18 juta," jelas Deddy
















